Cerita Seks Bercinta Dengan Nining Istri Tukang Bakso Yang Cantik

Posted on 4,262 views

Cerita Seks Bercinta Dengan Nining Istri Tukang Bakso Yang Cantik Cerita Seks Bercinta Dengan Nining Istri Tukang Bakso Yang Cantik  – Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang yang gemar berada dalam sebuah komunitas atau perkumpulan. Baik yang positif (apalagi) yang rada negative. Hehe. Gua ini orangnya supel. Suka perempuan~

Tapi, seperti halnya kebanyakan masyarakat urban, masyarakat kelas menengah ngehek, gua justru luput menjalin hubungan dengan tetangga sekitar.
Gua gak tau siapa-siapa tetangga yang tinggal bahkan disebelah rumah gua sendiri. Tapi sebetulnya, selain karena memang gua yang kurang peduli juga karena sebelah rumah gua itu kontrakan rumah toko (ruko) yang penghuninya sering berganti seiring musim yang sedang terjadi.
Kalo musim hujan, biasanya ruko diisi sama tukang bakso. Kalo musim kemarau, diisi sama tukang cendol. Gua gak tau bakal diisi sama tukang apa kalo di Indonesia ada musim salju. Besar kemungkinan diisi sama tukang jamu.
Suatu hari, dirumah gua menggelar sebuah pertemuan yang dihadiri ratusan orang. Karena rumah gua gak cukup untuk menampung ratusan orang (rumah gua cuma cukup menampung 99 orang. Hehe) maka terpaksa harus menggelar tiker sampai keluar rumah, yaitu jalanan komplek yang sekaligus menjadi jalanan umum masyarakat sekitar menuju jalan raya utama.
Gua baru sampai rumah jam 8 malam dan cukup kaget melihat rumah gua bak studio JKT48. Gua pikir omongan nyokap dipagi hari, “Nanti malem ada acara dirumah..” cuma acara rutin macem pengajian atau arisan warga, ternyata lebih dari pada itu.
Karena enggan, “permisi-permisi..” untuk masuk ke dalem rumah, gua pun akhirnya menunggu acara selesai disebelah rumah. Diruko tukang jamu, eh, ruko tukang bakso.
Satu jam berlalu sambil ngobrol ngalor-ngidul sama kang bakso yang tau muka tapi tidak tau nama gua, begitu pun dengan gua sendiri. Akhirnya kami pun berkenalan. Dan akhirnya kang bakso yang bernama Mas Parto ini gua pake. Yakali!
Mas Parto, begitu biasa dia disapa, usianya hampir 50 tahun. Dia baru punya satu anak perempuan, namanya Lis. Usianya tak lebih dari 10 tahun. Sedang lucu-lucunya. Waktu gua ngobrol sama Mas Parto, Lis beberapa kali keluar masuk menggali perhatian gua yang sebelumnya, saat pertama kali melihat dia, gua menggodanya. Anak kecil tau sendiri kalo digodain, maunya terus dan terus.
Karena tak kuat menahan kencing, gua pun meminta izin Mas Parto untuk pakai kamar mandinya. Mas Parto kemudian mempersilahkan gua setelah sebelumnya masuk ke dalam. Besar kemungkinan dia sedang membersihkan kamar mandinya agar “layak dipinjam”.
Ruko Mas Parto ini memiliki tiga ruangan/petak. Petak pertama tempatnya berjualan, petak kedua kamar tidur, dan petak terakhir dapur serta kamar mandi. Lebarnya 4 meter dan panjang 10 meter. Yang berminat ngontrak silahkan pm. Lah!
Saat masuk kedalam, menuju kamar mandi, ada istri Mas Parto, sedang menonton tv. Karena gua diantar Mas Parto, gua pun hanya sepintas lalu melihat istrinya yang sedang ‘diusel-usel’ sama Lis.
Setelah selesai buang hajat, (yap, abis kencing, mendadak gua mau boker) gua pun keluar kamar mandi. Saat baru saja keluar dari area dapur memasuki area kamar tidur, Lis (kembali) ngajak bercanda. Dia sembunyi dibalik tembok, kemudian seperti seolah-olah mengagetkan gua sembari memeluk sekitaran kaki dan paha gua sambil tertawa cekakakan.
Mas Parto yang sedang melayani pembeli terdengar memperingatkan buah hatinya itu untuk tidak mengganggu. Tapi apakah gua merasa terganggu? Tentu tidak. Kejadian itu gua manfaatkan untuk melihat dengan seksama sosok istri Mas Parto.
“Wow..” Gerak mulut gua saat melihatnya. Istri Mas Parto kemudian meminta Lis untuk kembali anteng atau duduk dikasur. Gua sempat tersenyum dan menganggukkan kepala saat saling menatap dengan istri Mas Parto. Dia pun balas tersenyum dan mengangguk.
Mas Parto ini sepertinya punya aji-ajian dari mbah dukun. Karena kalo dicari alasan logis perempuan muda, cantik, dan bahenol macam istrinya ini mau ‘diajak’ susah menjalani hidup sama dia, gua gak nemuin.
Istrinya Mas Parto ini cuantik, rek!
Untuk bersanding sama lelaki umur 50 tahunan yang berprofesi sebagai kang bakso, istrinya malah bisa dibilang cantik banget.
Bukan bermaksud merendahkan tukang bakso, tapi wajarnya perempuan cantik yang umurnya terpaut 20 tahun dengan seorang lelaki, cuma akan menikah sama kang korupsi, kang tender, atau kang-kang lainnya yang punya harta melimpah. Lah Mas Parto?
Nama istri Mas Parto ini tak lain dan tak bukan adalah Teh Nining. Dia dipanggil “Teh” karena lahir dan besar di … Ambon. What? Hehe.
Teh Nining ini aseli Ciamis. Dia berkenalan dengan Mas Parto diarea wisata pantai daerahnya. Selang sebulan perkelanannya itu, Teh Nining dilamar dan kemudian dinikahi lalu dibojong Mas Parto ke Jakarta.
Ini yang tadi gua bilang kalo Mas Parto punya aji-ajian. Saat berkenalan dan hendak mempersunting Teh Nining, usaha bakso Mas Parto hanyalah sekala gerobak dorong yang mana tidak mempunyai pelanggan tetap. Mas Parto mengumpulkan keuntungannya berdagang selama lebih dari 10 tahun untuk menikah dan mencari peruntungan lebih besar dengan mengontrak toko, bahasa kitanya, mangkal. Agar punya pelanggan tetap dan usaha berkembang.
Laba selama 10 tahun itulah modal Mas Parto menemui orang tua Teh Nining dan memboyongnya ke ibu kota. Kalo Mas Parto gak punya aji-ajian, rasanya orang tua Teh Nining enggan menyerahkan buah hatinya yang cantik nan montok itu.
Sejarah singkat diatas, disponsori langsung oleh Mas Parto sendiri (selain dugaan punya aji-ajian, tentu saja). Keabsahan dan keakuratannya jelas terverifikasi serta dapat di pertanggungjawabkan. Ngok!
Tidak ada hal istimewa yang terjadi setelah perkenalan dengan tetangga sebelah rumah gua ini. Semua kembali normal seperti biasanya, seiring selesainya acara yang berlangsung dirumah gua. Janganlah kalian berharap gua langsung doggiestlye sama Teh Nining disaat Mas Parto menggodok gilingan baksonya, jangan! Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
Awal mula perkenalan langsung gua sama Teh Nining adalah saat gua hendak keluar rumah. Waktu itu gua memarkirkan kendaraan disebelah rumah atau lebih tepatnya didepan ruko Mas Parto karena lupa membawa pulpen. Ou, ouw. Jangan sepelekan pulpen. Googling, ‘lost your pen’ untuk keterangan lebih lanjut.
Karena masih pagi, warung Mas Parto masih tutup. Itu kenapa gua santai aja parkir didepan rukonya. Sekembalinya mengambil pulpen, gua ketemu Lis sama ibunya yang mau berangkat ke sekolah. Gua pun dengan tulus ikhlas tanpa niat kotor mengajak mereka bareng.
Sebenarnya jarak antara area sekolahan sama rumah gua tidaklah jauh-jauh amat. Bahkan tidak lebih dari 2 km. Tapi atas dasar perputaran ekonomi, masyarakat sekitar rumah gua lebih memilih naik ojek ketimbang jalan kaki. “Bagi-bagi rejeki..” begitu alasan dari keengganan berjalan kaki masyarakat urban saat ini.
Teh Nining awalnya sempat menolak karena mungkin malu atau segan. Tapi karena Lis langsung setuju dan naik ke dalam kendaraan, Teh Nining tak bisa berbuat apa-apa.
Teh Nining tampak malu dan kaku, dia membatasi gerak Lis di dalam mobil. Gua sesekali mnggoda Lis dan meng-gpp-kan usaha Teh Nining meredam tingkah random anaknya. “Gpp, Mba.. Ih, si Mba, kaya gak pernah kecil aja..”
“Bapaknya mana? Masih tidur ya?” Kata gua, bertanya pada Lis yang tampak antusias (mau gua sebut ‘norak’ ga tega) mencet-mencet dan melihat monitor didepannya. Lis hanya menjawab sepintas lalu tanpa melihat kearah gua, “Iya..” katanya.
Teh Nining yang menyadari tingkah anaknya menggelengkan kepala dan tersenyum malu. Karena anaknya tak menggubris, gua pun lalu mengajak berbicara ibunya. Eaaa. Kalo kata pepatah, “Habis jatuh tertiban janda”
Kalo kata orang jawa, malahane.
“Mba, siapa namanya?”
“Nining..”
“Aslinya juga satu daerah sama Mas Parto?”
“Oh, ngga. Saya mah dari Ciamis..”
“Ooh, urang sunda. Teteh, dong ya, manggilnya..”
“Hehe, iya..”
Lagi-lagi kalian jangan berharap gua langsung akan meng-wot-kan Teh Nining didalam mobil. Karena tak lama dari obrolan perkenalan diatas, kami tiba diarea sekolahan. Lagipula masih ada anak dibawah umur.
Setelah kami berpisah semuanya kembali normal seperti biasanya lagi. Tak ada niat kotor, tak ada pikiran mesum, meski bertemu dan bertukar senyum dengan Teh Nining di hari-hari berikutnya.
Sampai akhirnya, awal mula kemesuman yang kalian tunggu-tunggu hadir juga.
Gua kedatangan tamu dari jauh, seorang teman lama. Kolega gua dalam usaha membawa cewe-cewe mabuk ke dalam gubuk.
Namanya Udjo. Saat ini dia sudah tinggal diluar kota bersama istri, anak, dan ibu mertuanya. Sepaket.
Gua mengajak Udjo makan bakso ditempat Mas Parto karena enggan menambah kemacetan ibu kota diakhir pekan. Entah karena akhir pekan atau habis hujan, ruko Mas Parto kebanjiran pembeli.
“Alhamdulillah, ya Mas kebanjiran pembeli, bukan kebanjiran air got!” Kata gua, coba mencairkan raut sibuk Mas Parto sehingga membuatnya tertawa. Karena ramai, tentu saja, Teh Nining membantu suaminya melayani pembeli.
Saat itulah, Udjo memberi kode dengan menyolek-nyolek paha gua. Semacam isyarat yang berbunyi, “Bro, Anjirr. Bininya cakep bener nih tukang bakso!”
Gua hanya tersenyum dan sesekali menghentikan colekan Udjo. “Lu kata gua sabun!” kata gua juga dalam bahasa isyarat. Isyarat laraswati~
Gua sama Udjo pun terlibat obrolan tanpa suara saat menunggu baksonya datang. Kalian tau macam mana obrolan tanpa suara, kan? Taulah, pasti. Haha.
Gua menyikut Udjo saat dia mulai ekstrim memandang Teh Niningyang entah sedang mengambil kembalian atau mencuci mangkok. “Lah, elu mah enak, mau ngeliatin dia pake muka mesum macam apa juga gak masalah. Gua, yang gak enak!” Kata gua saat kembali berbincang dirumah.
“Tapi asli, bro. Itu tadi mbanya boleh tuh, asli. Lah, lakinya aja udah aut, bro!”
“Aut?” Tanya gua, gak ngerti.
“Iya, aut. Tua, bego!” Jawabnya menjelaskan sambil tertawa.
Gua pun tertawa dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tapi Udjo seperti sudah dirasuki iblis mesum piaraan gua sendiri. Dia berkata dengan begitu yakin, “Kalo gua jadi lu, bro. Gua sikat tuh bininya kang bakso! Asli!”
“Sikat, ndasmu sempal!” Balas gua menyudahi kemesuman yang ada.
Udjo benar-benar menginspirasi gua untuk menggagahi Teh Nining. Dia seolah memberikan gua keyakinan kalo Teh Nining pasti mau diajak selingkuh. “Asli, pasti mau!” begitu kata Udjo, dengan keyakinan tingkat wali.
Dan, iblis pun menyusun situasi mesum untuk gua.
Malam itu gua sampe rumah sudah sangat larut, sekitar jam 1an. Gua ngeliat Teh Nining sedang belanja diwarung klontong milik orang Madura, yang pernah gua tanya, “Buka 24 jam ya pak?” Dijawab, “Ngga, cuma sampe pagi kok..” Okee.. Makasih pak.. ~
Setelah markir kendaraan, gua bergegas ke warung klontong itu yang jaraknya tak jauh dari rumah gua.
“Eh, Teh Nining.. Belum tidur, Teh?”
“Oh, iyaa..” Jawabnya malas. Duh, gak ada peluang nih, batin gua.
“Beli apaan, Teh..” Tanya gua lagi.
“Hah? Ituh, tau nih, bapaknya Lis . Minta makan mie..” Jawabnya setengah terkejut. Teh Nining tampak murung dan melamun. Gua memandanginya dengan seksama. Baru ngeliatin dia aja, dada gua udah berdebar. Kaki gua gemeter. Dan, yap! Iblis berbisik, “tuh bos, dia nyebut Mas Parto “Bapaknya Lis” bos, bukan “Suamiku”. Itu artinya bisa digoyang imannya, bos! Lanjut, bos!”
“Beli apa mas?” Tanya Teh Nining? Bukan! Tanya orang Madura. Membuyarkan lamunan gua menatap Teh Nining.
“Oh. Rokok pak.. Lupa saya. Sama kopi juga deh..”
“Seduh sekalian kopinya?”
“Gak usah, pak. Eh, tapi kalo airnya baru mendidih, boleh deh..”
Tak disangka, Teh Nining ikut bicara.
“Jam segini malah mau ngopi, mas. Gak tidur emangnya?”
“Hehe, iya Teh. Masih ada kerjaan..”
“Emang, Mas kerjanya dimana?” Tanyanya lagi. Sambil bayar gua ngomong, “Kenapa? Teteh mau ikut? Hehe.” dengan pandangan menggoda. Teh Nining sesaat kaget, lalu tertawa.
“Duluan, Teh..” Kata gua, kemudian cabut dari warung. Teh Nining masih menunggu belanjaannya. Dan tak lama, dia pun bergegas pulang.
Teh Nining cuma berjarak 3 langkah dibelakang gua. Gua sengaja memperlambat jalan gua. Teh Nining dilema, antara mau duluin gua atau ikutan jalan lambat. Dia milih opsi pertama, mungkin karena sudah ditungguin suaminya.
“Ayo, mas..” Katanya saat berada disebelah gua sesaat mendahului.
“Oh, iya Teh..” Balas gua, sok cuek dengan akting mainan gejet. Dalam hati bergejolak, “minta-ngga-minta-ngga..” Akhirnya gua memilih, Ngga! Haha, cupu banget gua. Minta nomornya aja takut! Yaiyalah, takut. Bini orang, sob!
Tapi iblis punya rencana lain. Saat berada didepan ruko/rumah Teh Nining , dia kembali bersuara sebelum masuk. Seolah memberikan kode, kalo dia mau kok diajak selingkuh.~
“Awas, Mas, kesandung! Hehe” godanya, yang melihat gua jalan sambil menatap layar gejet. Gua sok cool, menengok kearahnya dan hanya tersenyum. Ingin rasanya ngomong, “Teh, minta nomor teleponnya, Teh..” Tapi itu namanya main kotor. Kemungkinan didenger Mas Parto besar, jadi gua urung melakukannya.
Sampai kamar, gua menyusun rencana dan tidur. Kopi yang gua beli dan udah diseduh, yang hanya menjadi kamuflase itu pun tak tersentuh. “Biarlah jadi rejeki semut..” Batin gua, lalu tidur.
Pagi-pagi sekali gua sudah berada di area sekolahan tempat Lis sekolah.
Iblis benar-benar sudah menguasai diri gua. Entah dimana keberadaan malaikat.
Rencananya, gua akan mulai mendekatkan diri sama Teh Nining saat dia menunggu Lis. Dan, melihat umur Teh Nining yang gak tua-tua amat, dugaan gua dia pasti gak akan ikut nunggu Lis sambil ngerumpi sama ibu-ibu lain yang juga mengantar anaknya.
Tapi dugaan tinggal dugaan. Teh Nining ikut membaur dengan ibu-ibu. Iblis memberi celah dengan tidak adanya ibu-ibu yang berada di sekitar Teh Nining yang gua kenal. Jadi, besar kemungkinan juga gak ada yang mengenal gua. Tinggal kemudian gua mencari celah untuk “dilihat” Teh Nining.
Mulai dari bersiul kearah Teh Nining, sampai melambai-lambaikan tangan, dia tetap tak sadar keberadaan gua. Tiba-tiba saja ide muncul saat melihat bocah sd keluar dari salah satu kelas (bukan kelasnya Lis), gua langsung mengiming-imingin jajanan dan mengantarnya kembali ke kelas seolah-olah gua adalah sodaranya.
Teh Nining sedikit kaget melihat keberadaan gua. Gua mengangguk dan tersenyum kearahnya. Setelah si bocah masuk kelas, gua menghampiri Teh Nining.

http://www.visitorbet.com/

“Nganter? Siapa?” Katanya, membuka pembicaraan.
“Oh, iya. Keponakan Teh..”
“Oohh..” Responnya sambil beranjak dari tempat duduk hendak membeli jajanan.
Gua sih yakin kalo dia cuma ngasih peluang ke gua, semacem kode minta ditelanjangin. Atau minimal ini settingan iblis.
“Nungguin sampe pulang, Teh?” Tanya gua. Dia gak gak menjawab, hanya mengangguk. Raut wajahnya tampak risih. Seketika gua bagai tersambar petir. “Anjir, gua cuma kegeeran nih..” Batin gua.
“Teh..” Sapa gua lagi. Pantang menyerah.
“Iya..” Jawabnya, masih dengan raut wajah risih dan cenderung was-was. Gua langsung menyodorkan hp dan minta nomor teleponnya. Dang! Hp gua gak direspon.
Tapi dia malah bilang, “Nomor Mas aja berapa?” sambil mengeluarkan hpnya dan gua pun pamit duluan setelah memberikan nomor hp.
Gua sih ga yakin dia bakal ngontek gua, tapi atas dasar positive thinking untuk kelakuan negative, gua menunggu kontak Teh Nining. Tak sampai satu jam, ada pesan masuk ke hp gua.
“Ada apa ya, Mas? Maaf, saya risih ngobrol ditempat umum. Takut dikira macem-macem. Nining.”
Hhhuuaaa.. Teh Nining. Macam orang dulu aja ngirim Short Messages Service. Hehe
“Hehe, kalo gitu saya Teh yang minta maaf. Ga ada apa-apa Teh, mau kenal aja. Mau ngobrol-ngobrol. Kalo smsan gini masih risih ga, Teh? Hehe”
“Ya kalo sms gini ga risih. Kan gak ada yang liat. Mau kenal? Kan udah kenal. Ngobrol kok sama ibu-ibu sih Mas, sama yang masih gadis aja atuh.”
“Duh, Teh. Kalo sama gadis mah ribet Teh, ambekan. Dikit2 ngambek. Hehe. Teh Nining tiap hari nungguin Lis?”
“Yah Mas, ibu-ibu juga sering ngambek kok. Namanya juga perempuan. Heee. Iya, tiap hari nungguin. Mas tadi anter anaknya ponakan? Kok baru liat.”
“Hehe, ngga Teh. Sebenernya cuma alesan buat ketemu Teteh aja ”
“Hmm. Mas, tolong jangan nelepon saya yah klo saya lagi dirumah. Takut bapaknya Lis tau nanti malah nyangka macet-macet.”
Pesan terakhir Teh Nining gak gua bales, tapi gua berinisiatif langsung meneleponnya. Teh Nining terasa begitu segan dan risih saat menerima telepon gua. Tapi meski begitu, dia juga tak memadamkan percikan untuk digoda. Gua sebagai lelaki normal yang abnormal tentu saja tak melewatkan peluang begitu saja.
Gua mencoba membuatnya nyaman berbicara sama gua. Pelan-pelan Teh Nining mulai ‘biasa’ dan enjoy dalam berbicara. Sesekali dia bercerita juga bertanya. Nah, kedua hal tersebut adalah koentji sebuah pedekate berhasil atau tidak.
Akhirnya Teh Nining menyudahi obrolan via telepon itu karena jam pulang Lis sudah tiba. Gua longok jam tangan, ‘pukul 09:50 WIB’.
Diakhir obrolan gua sempet ngomong, “Kalo lagi suntuk sms saya aja, Teh. Siapa tau malah tambah suntuk..” seraya tertawa. Teh Nining juga tertawa lepas saat menutup teleponnya.
Gua pulang kerumah waktu banci pun belum dandan. Pikiran gua dipenuhi strategi-strategi menelanjangi Teh Nining.
Dan sepertinya, Teh Nining ini memang minta ditelanjangi. Dia sms gua gak lama setelah gua sampai rumah.
“Tumben Mas jam segini udah pulang? Gak jalan-jalan dulu sama pacarnya? Lagi marahan ya.. Hehehe”
Gua sempat kaget mendapati sms Teh Nining, karena pas gua liat sebelum masuk rumah, Teh Nining lagi momong Lis di dekat Mas Parto. Mas Parto sendiri sedang melayani pembeli yang gak banyak-banyak amat dan gak sedikit juga.
“Hehe, bisa aja Teteh. Lagi nonton tv apa masih di depan Teh? Tadi saya lihat kan Teteh di depan.”
“Iya, lagi nonton tv. Udah ga di depan, banyak pembeli. Lagi sekalian nidurin Lis.”
“Nidurin Lis? Mau juga dong Teh, ditidurin. Ahahaha. Becanda, Teh. Loh, banyak pembeli kok gak bantuin Mas Parto?”
“Hmm. Untung cuma becanda. Bantuin kok, tapi sambil nonton tv. Heee.”
“Owgitu..”
Biajingan, gua keabisan ide sampe cuma begitu doang bales smsnya. ‘Owgitu..’ Sms macam apa itu? Macem lagi wasapan atau bbman aja. Padahal di sms tersedia 140 karakter. Eh, bener apa ngga ya? Bodo, ah. Haha.
Tapi ditengah keputusasaan balesan sms gua, Teh Nining memainkan perannya.
“Besok nganter lagi Mas?”
“Nganter, bareng aja Teh.”
“Gak ah. Ngerepotin.”
“Yah, Teh. Timbang gitu aja ngerepotin.”
“Heeeehe. Boleh deh kalo gak ngerepotin.”
“Eh, sebenernya emang ngerepotin sih Teh. Kecuali kalo abis nganter trus Teteh nungguin Lis-nya diluar sama saya, baru gak ngerepotin.”
“Hmm. Keluar kemana Mas?”
“Gak usah jauh-jauh Teh. Biar jam setengah sepuluh udah sampe sekolahan lagi. Kemana aja, yang penting bisa ngobrol-ngobrol.”
“Gak ah. Takut ada yang liat Mas.”
“Ya kalo gitu, kita pergi ketempat yang gak ada orang liat. Hehe.”
“Mas bisa aja. Udahan dulu ya, Mas. Jangan sms lagi.”
Huhu. Yes!
Tak sampai 20 menit, Teh Nining sudah masuk ke dalam mobil yang gua parkir di minimarket. Gua sedang berada di dalam membeli ‘perlengkapan perang’.
Mobil sengaja menyala dan gak gua kunci, Teh Nining menjalankan semua perintah gua. Nice.
“Kemana Mas?” Tanya Teh Nining waktu gua baru masuk mobil.
“Kemana ya?” Kata gua sambil memandanginya dari atas sampai bawah, tanpa ada gangguan sedikitpun. Muka Teh Nining seketika memerah. Kemudian memalingkan pandangannya.
Teh Nining hanya memakai celana piama. Celana tidur dipadu dengan daster sedengkul dan jaket. Badannya yang bahenol terlihat dari balik pakaian yang berbahan lemas itu. Meski jaket blazernya coba menutupi.
Gua mulai nakal dengan menyentuh bagian rusuknya. Teh Nining reflek bergoyang. Sekali, dua kali, sampai akhirnya Teh Nining menghadap gua, lalu meraup wajah gua. Seperti sedang menampar, tapi tanpa tenaga.
“Bajingan, berani nyentuh gua nih ibu-ibu..” Batin gua. Gua pun langsung memanfaatkan dengan memegang tangannya. Teh Nining membeku. Gua berdebar tak karuan.
“Yang penting, cabut dulu aja Teh dari sini..” Kata gua kemudian sambil keluar parkiran dan gas pol entah kemana.
Dijalan, gua menimang-nimang tempat tujuan. Teh Nining gak banyak bicara, cenderung sedikit grogi. Raut wajahnya juga tampak khawatir. Entah khawatir gua apa-apain atau khawatir perbuatan nekatnya ini ketahuan Mas Parto.
Di depan gerbang hotel, gua berhenti dan memandang Teh Nining. Satu, dua, tiga detik, Teh Nining tak kunjung memandang balik. Gua menggoyangkan jari di lingkaran stir.
Teh Nining memandang balik. Raut wajahnya bukan sekedar bertanya “Ngapain berhenti didepan hotel?” tapi juga, “..Kalo mau masuk, ya masuk.”
Gua tersenyum lebar. Teh Nining menghembuskan nafas panjang. Iblis berdendang dijok belakang. Malaikat terbelenggu didalem bagasi.
“Mas ngapain kita kesini?” Tanya Teh Nining saat sudah duduk dibibir kasur hotel.
“Ngapain ya Teh enaknya? Hehe. Ngobrol aja Teh..” Jawab gua sambil merebahkan badan dikasur. Teh Nining membelakangi gua.
“Kan, kalo ngobrol disini gak bakal ada yang liat Teh..”
Teh Nining sesekali menengok kebelakang, melihat posisi pewe gua. “Sini, Teh, nontonnya sambil rebahan. Kaya waktu saya pertama ngeliat Teteh, kan lagi nonton tv sambil tiduran gini..” Goda gua.
Teh Nining kembali menengok dan tertawa malu. “Saya duduk, sih waktu itu. Gak tiduran. Dibilangin bapaknya Lis, mau ada yang numpang kamar mandi.”
Didalam kamar, hampir selama setengah jam, hanya gua habiskan dengan ngobrol gak jelas. Sama-sama malu. Sama-sama grogi. Tapi lambat laun, Teh Nining mulai santai dan berkeliling kamar hotel.
Duduk dimeja rias. Ke kamar mandi. Buka-buka kulkas dan baca majalah. Sesekali mendekat ke arah gua untuk bertanya sesuatu yang ada dikamar hotel. Gua pun justru larut dengan menyia-nyiakan waktu yang ada sambil glesoran dikasur.
Madep kanan, madep kiri, tungkerep, telentang. Glesoran gak karuan.
Sampai akhirnya gua bertanya sesuatu, “Eh, Teh. Kok umurnya bisa beda jauh sih sama Mas Parto?”
Teh Nining yang sedang duduk didepan meja rias sambil baca majalah kemudian berdiri. Mukanya seketika kesal. “Saya mau balik ke sekolahan, Mas..” Katanya.
Doh, ngambek!
Teh Nining lalu berjalan menuju pintu, gua langsung beranjak dari kasur dan menahannya.
Kemudian gua minta maaf kalo ada sesuatu yang menyinggung. Teh Nining tak bergeming. Gua sedikit menarik tangannya. Yang terjadi kemudian sungguh diluar perkiraan.
Gua hanya menarik tangannya pelan untuk mendapat perhatiannya yang sebelumnya enggan memandang gua. Tapi reaksi Teh Nining seperti baru saja di uppercut Muhammad Ali.
Dia merobohkan badannya yang secara otomatis menimpa badan gua yang lalu terjatuh dikasur.
Sesaat kami saling pandang. Kedua tangan Teh Nining berada didada gua, sedikit menopang tubuhnya.
Gua lalu melingkarkan tangan gua dibadannya. Teh Nining tak bereaksi. Masih memandangi gua. Gua salah tingkah. Muka Teh Nining sedikit berubah menjadi sangat serius. Sesekali dia memejam.
Kemudian gua meraih kedua tangannya. Badan Teh Nining sepenuhnya menindih badan gua. Payudaranya yang montok mendarat tepat didada gua. Muka Teh Nining makin berubah saat gua menggoyangkan badannya. Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin melumat atau berkata sesuatu.
Gua melepaskan jaket blazzernya. Andika sudah tegangan tinggi. Kaki Teh Nining lurus diatas gua.
Gua lalu meremas bokongnya agar kakinya terbuka. Dan, yap, Teh Nining mengangkang diatas gua dengan wajah horny.
Andika yang sudah tegangan tinggi terasa bersentuh dengan bagian vagina Teh Nining. Gua menggoyangkan pinggul naik-turun sambil meremas bokongnya. Sebentar saja, Teh Nining sudah mengikuti irama goyangan.
“Sssstttt..” Desisnya sambil memejamkan mata. Giginya seperti sedang menggigit sesuatu. Gua makin kencang meremas bokongnya.
Tiap gua remas dan bergoyang, Teh Nining berdesis sambil mengatur nafas. “Sssssttt..”
Tangan gua masuk ke dalam celana piamanya. Mudah saja buat gua karena hanya berbahan kolor. Setelah didalam celana, tangan gua gak meremas bokongnya, tapi langsung menyentuh vaginanya dari atas.
Teh Nining langsung mencengkram wajah dan melumat bibir gua. “Eemmm…” Desah gua.
Sambil berciuman, saling melahap satu sama lain, gua menarik-narik kancut Teh Nining. Teh Nining bergeliat sambil menggoyangkan sendiri pinggulnya. “Sssssttt…hhuuu..” Desahnya kali ini.
Gua lalu mulai meremas payudaranya. Teh Nining memberi ruang dengan sedikit mengangkat tubuhnya yang berada diatas gua. Sebentar saja, gua langsung membuka tali branya dan mengangkat daster serta branya.
Payudara montok Teh Nining menggantung diatas wajah gua. Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan dikasur. Setelah menikmati aroma tubuhnya, gua mulai mengulum puting payudara Teh Nining .
Dari payudara yang satu, ke yang lain. Secara adil gua kulum dan remas payudaranya. Teh Nining menggoyangkan badannya saat gua sedang melahap salah satu payudaranya.
Sambil menjilati putingnya, gua kembali meremas bokongnya.
Teh Nining makin menikmati kebejatannya. Dia membuka celananya pake satu tangan dengan gerakan yang dinamis, tanpa mengganggu gua yang sedang melahap payudaranya. “Ssssttt.. Aahh..” Desahnya.
Gua lalu membalikkan badan. Teh Nining telentang sambil bergeliat saat gua melepas celana. “Dasternya, buka Teh..” Kata gua saat hendak menjilati vaginanya yang masih tertutup. Teh Nining membuka dasternya dan tapi kemudian menarik wajah gua dan memberikan ciuman dahsyat. Dia mencium sambil menyedot.
Gua memasukkan tangan ke dalam kancutnya dan menyentuh vaginanya. Teh Nining makin melumat bibir gua. Lalu gua memaikan jari dimulut vaginanya. Basah!
Vagina Teh Nining sudah basah saat gua melepaskan kancutnya, dan saat hendak menjilati, lagi-lagi dia menarik kepala gua. Gua pun akhirnya hanya mengocok vaginanya dengan jari sambil menjilati payudaranya. “Aaaahhhh.. Sssttt.. Aaaauuggghh..” Desahnya.
Kemudian gua memasukkan satu lagi jari ke dalam vaginanya. Teh Nining mengerang sambil mencengkaram leher gua. Gua melepaskan cengkramannya sambil mempercepat gerakan jari mengocok vaginanya.
Untuk mendapatkan hasil maksimal, gua menegakkan dudukan badan. Yang tadinya sedikit membungkuk mengulum payudara, menjadi duduk tegap disamping badan Teh Nining yang bergeliat keenakan.
Pemandangan dari sini adalah yang terbaik saat sesi porplei, bro.. Haha. You, know lha.
Teh Nining tak dapat menyembunyikan raut wajah malu bercampur nafsu saat gua sengaja mengocok vagina sambil memperhatikannya. “Enak, Teh..” Kata gua.
Entah pertanyaan bodoh macam apa itu. Sialnya, itu pertanyaan yang sering diajukan lelaki saat sedang memberikan nikmat ke wanita yang sesang dieksekusi.
Teh Nining menutupi wajahnya dengan bantal saat tak kuasa mendesah. Dia mendesah dibalik bantal. Gua langsung menyingkirkan bantal. Wajah Teh Nining tampak sudah tak perduli. Dia benar-benar menikmati gerakan jari-jari gua.
“Aaahhh, aaakkhhh, hhhaaaahhh..” Desahnya sambil meremas salah satu payudaranya. Payudara yang lain, gua bantu meremas.
Sesaat gua bertanya-tanya. “Ini orang udah punya anak kok pentilnya masih bagus?” Sambil memilin dan meremas buah dadanya.
Sesekali gua kembali melumat pentil dan payudaranya. “Aaaakkkhhh…” Desahnya, panjang. Kemudian gua makin cepat mengocok vaginanya. Teh Nining coba merangkul leher gua, tapi tak bisa karena gua menghindar. Ia lalu mencengkram sprei kasur dengan kedua tangan yang berada diatas kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, gua makin semangat mengocok.
Akhirnya Teh Nining memuncratkan cairan dari vaginanya. Badannya bergeliat tak karuan. Ia menahan gerakannya sambil mengatur nafas.
Teh Nining terkujur lemas dengan badan sedikit miring. Kedua kakinya menutup vaginanya.
Gua lalu mengeluarkan Andika dan mendekatkan ke wajahnya. Gua ‘memukul-mukul’ wajah Teh Nining dengan pentungan hansip itu. Lalu mulai menggerayangi mulutnya. Teh Nining urung membuka mulut, dia tampak sedang masih mengumpulkan tenaga.
Gua terus berusaha sambil kembali meremas payudaranya. Lalu membuka kakinya yang menutupi vagina. Teh Nining kembali terlentang dengan posisi sedikit mengangkang. Gua memberikan sentuhan-sentuhan ringan ke sekujur badannya.
Kemudian setelah menjilati payudaranya, gua menciumi bagian pahanya. Posisi gua masih dengan Andika yang berada di wajah Teh Nining. Gua lalu merebahkan badan disamping dengan posisi terbalik. 69!
Dengan posisi menyamping, gua mulai melumat vagina Teh Nining. Dia langsung meremas Andika. Lalu gua mengangkat badannya menindih badan gua dalam posisi sempurna 69.
Gua menjilati vagina Teh Nining yang terasa asin. Teh Nining urung melahap Andika sampai gua memasukkan satu jari kedalam vaginanya. “Oouugghh..” Desahnya, lalu melahap Andika.
Andika terasa hangat dan basah.
Bokong Teh Nining bergerak-gerak diatas wajah gua. Vaginanya tepat berada dimulut gua. Sementara Andika keluar masuk mulutnya.
Teh Nining makin menikmati tugasnya. Sesekali dia menyedot Andika dalam-dalam, lalu menjilati dan mengulum bola dragonbol. “Ahhh, enak teh..” Kata gua. Kali ini bukan pertanyaan, ini pernyataan.
Teh Nining tiba-tiba menegakkan badannya.
Sambil mengocok Andika, dia merangkak naik dan mengurung Andika kedalam vaginanya. Jleb!
“Aahh, Fak!” Respon gua, tak menyangka dia langsung ke topik utama.
Teh Nining membelakangi gua dengan kedua tangan memegang sandaran punggung kasur. Andika terlihat timbul tenggelam dari bokong Teh Nining yang gua liat dari belakang.
Gua memegang bokong Teh Nining, membantunya bergerak naik-turun, maju-mundur. “Sssssstttt, mmaaasss… Aaahhhh” Desah desis Teh Nining yang makin cepat menggenjot.
Lalu gua bangun dari tidur dan memeluk Teh Nining dari belakang. Sambil meremas payudaranya, gua menciumi punggungnya.
Cerpen Dewasa | Teh Nining makin beringas, dia merangkul gua dengan posisi membelakangi. Nikmat sekali. Lalu Teh Nining meminta berciuman, dengan senang hati gua melayaninya. Kedua tangan Teh Nining yang setengah merangkul leher gua, membuat ketiaknya tampak menggairahkan. Sesekali gua memberikan kecupan ke ketiaknya.
Meski tidak harum, tapi juga tidak bau. Yang penting, tidak ada bulunya!
Badan Teh Nining yang bahenol tak dapat gua tahan lebih lama berada diatas paha gua.
Gua lalu* memintanya berdiri, dan mengambil posisi doggy tanpa melepas Andika yang betah didalam vagina Teh Nining.
Teh Nining berdiri dengan lututnya, masih dengan posisi membelakangi gua.
Gua sedikit membungkukkan punggungnya, sambil meremas payudara. Teh Nining bergeliat saat lehernya gua kecup-kecup.
“Keluarin didalem, Teh?” Tanya gua saat bergerak lambat menikmati ciuman.
“Jangan dikeluarin dulu..” Bisiknya, manja.
Gua kemudian menghadapkan wajahnya kearah jam dinding sambil melumat bibirnya.
Dia yang paham maksud gua lalu mendorong bokong gua agar masuk lebih dalam. Gua lalu berakselerasi tingkat tinggi.
“Plak! Plak! Plak!” Suara yang keluar, diikuti desahan Teh Nining, “Aaakkhhh, aaaaakkhh, Maasss.. Sssttt..”
Tak butuh lama dari serangan terakhir, Andika memuntahkan ludah naga didalam vagina Teh Nining.
“Oouugghhh…” Desah gua, panjang.
Teh Nining langsung membenamkan wajahnya dikasur dengan posisi nungguing. Tampak sperma gua secara perlahan keluar dari dalam vagina Teh Nining. “Sssstttt.. Hhhaaaahhh..” Desisnya.
Setelah sepertinya sperma sudah banyak yang keluar, Teh Nining merobohkan badannya, tidur tungkerep.
Lalu bersuara pelan, “Lis udah aku titipin sama temen. Nanti langsung aku jemput dirumahnya..” (Tamat)

 

Cerita Seks Bercinta Dengan Nining Istri Tukang Bakso Yang Cantik . by Detiklendir.com – Cerita Dewasa , Cerita Seks , Cerita Hot , Bokep , Bokep Indo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *